menyalakan lilin kecil itu jauh lebih baik daripada terus menerus mengutuki kegelapan

Seorang ayah yang di kenal sangat bijaksana merasa prihatin karena salah seorang anaknya mempunyai perangai yang kurang baik, dia sering sekali memarahi teman-temannya, adik, pembantu dan orang2 yang ada disekitarnya hanya karena sebuah kesalahan kecil saja. Sebagai ortang tua yang bijak beliau tidak henti-hentinya mengupayakan agar sifat anaknya tersebut berubah, namun sebagai orang tua yang bijaksana sang ayah tidak mau mengatasi kemarahan anaknya dengan kemarahan pula yang tentu saja  akan berakibat fatal di kemudian hari.

Hinga suatu hari sang ayah yang bijaksana tersebut memberikan sekantong paku kepada anaknya, dengan lembut beliau berkata: ”nak… mulai sekarang ayah tidak akan melarang mu untuk menjadi seorang yang pemarah tapi cobalah setiap kamu marah pada orang lain tancapkanlah paku ini di tembok belakang rumah kita”.  Sejak hari itu sang anak yang pemarah tersebut selalu menancapkan paku ke tembok belakang rumahnya setiap kali  dia marah dan memaki orang, dan setiap harinya bisa 3 sampai 10 paku yang ia tancapkan.

Hari demi hari dilalui,  hingga pada suatu hari sang anak memanggil ayahnya dan mengajak ke belakang rumahnya dimana ia biasa menempelkan paku tersebut, “lihat lah ayah… akhirnya saya semakin dewasa” ”sudah beberapa minggu ini tidak ada satupun paku yang saya tencapkan di tembok, saya sekarang sudah bisa menahan marah” ujar sang anak dengan bangganya.

“Syukurlah, kau semakin dewasa anaku” “ mulai sekarang cobalah kamu minta maaf pada setiap orang yang sudah kamu marahi, dan setiap kali permintaan maaf mu di terima maka cabutlah satu paku di tembok tersebut”.

Beberapa bulan kemudian dengan bangganya si anak berkata: “Lihatlah ayah…. Paku yang ada di tembok rumah kita sudah saya cabuti satu persatu karena saya sudah berhasil meminta maaf dengan tulus pada orang yang dulu saya sakiti”.

“engkau memang anak ayah yang baik, sekarang perhatikan temboknya, walaupun engkau sudah mencabut seluruh paku tapi temboknya tidak utuh lagi seperti semula, banyak sekali lubang dan retakan menganga bekas paku yang engkau tancapkan”. sang ayah melanjutkan : ”walaupun kamu sudah minta maaf pada orang yang pernah engkau marahai dan sakiti tapi retakan dan goresan di hati mereka tidak sepenuhnya akan pulih. Maka akan lebih baik bila engkau jadi orang yang bersabar dengan mengendalikan amarah dan tidak menyakiti orang.”

Comments on: "Belajar Kepada Jejak Paku" (1)

  1. bagus gan.. kisah insfiratif nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: